ABOUT LINKS TAG
about


I'm a brown eyes girl who live in a between. Between Gemini and Leo. Between sad and happy. Between single and taken. Oh, hi, between love and missing? Maybe yes, maybe no. But I think I must keep balance in my life to keep living. To keep in between.


(Old) Friendship // Tuesday, February 11, 2014
3:16 AM
Hari ini masih sama seperti dua minggu yang lalu. Kamu masih dingin dan diam. Aku juga masih diam dan menjauhimu, maybe. Sebenarnya, apa yng telah terjadi?
Tiba-tiba aku merasa tidak dianggap. Lalu sepertinya kamu sependapat denganku, dan memulai kisah baru 'persahabatan' ini. Kadang sebuah hubungan itu perlu dibumbui dengan beberapa masalah untuk memperkuatnya. Tapi, apa iya?Dua minggu yang lalu, awal dari lost contact. Kita? Aku dan kamu? Yang benar saja. Aku dan kamu sama-sama muncul di timeline Twitter, tapi tak satu pun menyapa. Dulu? Tidak perlu ditanyakan. Salah satu dari aku dan kamu, muncul di timeline atau tidak, pasti selalu mention atau mengirim direct message untuk sekadar curhat.
Biasanya aku dan kamu selalu menghabiskan waktu hanya untuk saling membalas pesan singkat dan perpesanan blackberry, kan? Sekarang, justru personal message-lah yang menjadi bumerang perang PM itu terjadi. Bahkan, tak jarang aku berpikir, apa perlu kontakmu itu aku singkirkan? Walaupun sampai sekarang, namamu itu masih bertengger di kontak 'SMP' milikku.
Kamu itu jahat. Beberapa hari yang lalu. Seseorang membuat status di facebook yang sangat-sangat-sangat menyindirku dan menyakiti hati siapapun yang membacanya. Seseorang itu menandai ke kamu, dan teman-teman baru kamu itu. Seseorang yang lain penasaran, memberi komentar. Kemudian? Teman-teman barumu itu pastilah bereaksi. Misuh, tentang seseorang, yang aku tahu itu, karena seseorang itu adalah aku.
Sampai aku menulis beberapa postingan tentang kamu saja, kamu masih tetap dengan permulaan dua minggu yang lalu. Kamu masih dingin dan diam. Aku tahu kamu membaca postinganku yang kemarin-kemarin, termasuk postingan ini.
Kamu tidak perlu tahu kalau aku sering menangis di malam hari, menjelang tidurku. Aku merintih di hadapan Tuhan, kenapa semuanya berubah begitu cepat? Saat aku dan kamu seharusnya makin erat. Aku hanya bisa mencamtumkan namamu dalam rapalan doa-doaku.
Semoga Tuhan membuka pintu hatimu. Amin.

Ditulis menjelang adzan Maghrib, sehari sebelum hari Rabu. Dari seseorang yang sedang merindukan sosok temannya.

Labels: ,