ABOUT LINKS TAG
about


I'm a brown eyes girl who live in a between. Between Gemini and Leo. Between sad and happy. Between single and taken. Oh, hi, between love and missing? Maybe yes, maybe no. But I think I must keep balance in my life to keep living. To keep in between.


Dia // Monday, February 3, 2014
1:45 AM

Sorot matanya menunjukkan kebencian. Aku paham, aku tahu. Namun sampai sekarang, aku belum mengerti. Aku salah apa? Permintaan maaf telah kulayangkan, tetapi dia anggap angin lalu. Aku harus bagaimana? Cara apa yang harus kutempuh?
Aku tidak tahu, kenapa ini bisa terjadi. Something happen without the reason.
Sebenenarnya siapa yang bersalah? Siapa pengadu mulutnya? Siapa yang terlalu peka? Siapa yang terlalu cepat menanggapi? Siapa, YANG MENUDUH SEMBARANGAN?
Lalu, dia dengan mudahnya membodohiku? Tidak.
Semua berubah. Aku dan dia sudah terpisah. Kami (seperti) tidak saling kenal. Kami tak pernah bertegur sapa (lagi). Kami tidak bersama-sama lagi.
Ah, kalau aku mengingat apa yang dia lakukan padaku, air mataku ini bisa mendarat secepat kilat. Namun aku mesti berpikir dua kali, apa yang perlu ditangisi? Orang seperti dia tidak berhak menjadi alasan kenapa kamu menangis. Tapi aku melawan egoku sendiri. Aku menangis. Aku lega, untuk sementara waktu. 

Tangisan tidak menyelesaikan masalah. Dia tetap berubah. Dia bukan dia yang dulu. 
Dia bukan dia yang dulu selalu mengulas senyum manisnya untukku.
Dia bukan dia yang dulu selalu menyapaku tiap berangkat sekolah.
Dia bukan dia yang dulu selalu mengajakku pergi ke kantin.
Dia bukan dia yang dulu selalu ingin satu kelompok denganku.
Dia bukan dia yang dulu selalu membuatku bahagia dan menangis dalam waktu yang sama.
Dia bukan dia yang dulu selalu tertawa bersamaku.
Dia bukan dia yang dulu selalu senang  bersamaku.
Dia bukan dia yang dulu selalu memanggilku meminta bantuan.
Dia bukan dia yang dulu selalu kuanggap sahabat sejati.
Dia bukan dia yang dulu selalu menaganggapku sahabat sejati.
Dia bukan dia yang dulu selalu menyisakan kenangan.

Dia? Mungkin sekarang membuatku rindu. Halah, aku rindu dengan dia? Dia yang sudah menyakitiku secara terang-terangan. 
Tapi, dia mengajariku untuk kuat. Dia mengajariku bagaimana caranya tersenyum, meskipun ada luka di hati ini. 
Dia? Apakah dia juga memikirkanku seperti aku memikirkan dia? Dia mungkin sudah lupa padaku. Dia mungkin sudah lupa tentang kebersamaan aku dan dia dulu. Dia mungkin sudah menghapus namaku dari daftar sahabatnya. Dia mungkin sudah menghilangkan bukti kebersamaan aku dan dia. Dia mungkin memang benar-benar seperti pikiran negatifku. Semoga saja, tidak. 
Aku. Dia. Aku dan dia mungkin bisa menjadi ‘kita’ lagi. Hanya perlu menunggu. Aku selalu mengingat-ingat, bahwa “Pertolongan Tuhan tidak akan pernah terlambat.” 
Aku bisa menyemangati orang lain. Aku bisa mengerti perasaan orang lain. Aku bisa.
Namun, aku masih sulit untuk menyemangati diriku sendiri. Aku masih sulit untuk mengerti perasaanku sendiri. Aku masih sulit.
Aku harap, semua akan baik-baik saja. Aku harap, dua minggu terakhir ini, ‘aku dan dia’ tidak ada apa-apa. Aku harap, esok hari semua akan berubah seperti sedia kala. Aku dan dia menjadi ‘kita’. Aku harap, persahabatanku bisa kembali. Aku harap, harapanku ini tidak terlalu tinggi. Aku harap, Tuhan mampu mengabulkan harapanku dalam waktu yang singkat. Aku harap, aku bisa ikhlas bila semua yang aku harapkan akan berbalik dengan kenyataan. 
Aku tidak terlalu berharap. Tapi, selama berharap itu tidak haram, kenapa tidak? Tolong digaris-bawahi ya, aku tidak berharap dia kembali. aku hanya ingin, aku dan dia bisa menjadi ‘kita’, seperti dulu.

Labels: ,